Dikala Hujan Mendatangkan Cinta



Hujan dikala hari pertemukanku dengan harapan, aku dan dia sudah pasti bukanlah “kita”. Tiada rindu setelah dipertemukan namun nada menghujat cinta menjadi sebuah pertanyaan.
“Apa itu cinta?”

Menopang pada sebuah kaki kecilku lalu ku baca sebuah novel yang menarikku di kala pencarian harapan. Tidakkah ku kembali mengingat prinsip dalam hidupku, tak lain aku mulai merasakan......

“Hatiku memilihmu.”

Ya, sebuah novel yang menjadi jawaban dalam seberkas tanya pada tatapan yang tak ku sengaja.
Apa jadinya ketika dia pertama kali ku jadikan inspirasi dalam ceritaku? Hah bodoh rasanya, membiarkan perasaan mengubur secara diam-diam prinsip dalam hidup.

Tapi.... bisakah itu terjadi?
Tatapan itu seakan menembus dinding relungku, yang tak sempat terbuka untuk seseorang pun. Senyumnya yang menikam erat menjadikan ku merasakan gugup bak jarum menulusup jiwa yang sepi.

Tak ingin semua ini terjadi, karna cinta kan marajam prinsip yang selalu abadi. Lalu bagaimana?
Tatapan yang terus berdiam, kini hanya jejak di kediaman jiwa. Melumat habis sepi yang terkoyakkan, kini menjadi sebuah tanya pada senyuman. Garis lengkungnya yang tak bisa ku lukis itu berhenti di sudut titik disaat pertemuan. Suara yang merasuki pikiranku, seakan berdebat untuk tidak mengkhianati prinsip dalam hidupku.

Kini seakan-akan dia menjadi sebuah pertanyaan yang mulai ku rindukan. Menembus batas rasa yang tlah ku tentukan dan sulit untuk ku tafsirkan. Mustahilkah jika dia merasakan yang sama denganku. Hanya karna aku yang selalu bercumbu dengan khayal harapanku. Berkhayal berharap untuk tetap ada didepan mataku.

Cukup sekali pertemuan itu manancap tepat di jantung hatiku. Jika tidak, raut wajah itu kan terus membius dalam lamunanku. Cukup sekali dia ubah gerimis menjadi pelangi. Jika tidak, mungkin hujan akan kembali terjadi. Ingin ku pastikan lalu ku buat pertanyaan.

“Apa ini cinta?”

Ah tidak, cinta hanya akan membuatku menangis semalam hanya karna yang lain mulai merasuki ingatanku.
Tetapi, lekuk senyumnya selalu ku tuai dalam benak harapan. Sehingga tak samar dalam mengingatnya. Hanya karna untuk ku sempurnakan dalam mimpi indah bersamanya.

***



Malam ini terasa berat, seolah-olah jemariku mengangkat ribuan galaxy milik Tuhan. Aku mencintainya namun sebait kata menuntutku untuk menjauhinya.

"Haruskah aku tertidur dalam deranya jiwa ditemani tangisan?"

Sungguh, aku tidak bisa melakukan itu  namun raga terlalu lemah untuk menepis penolakan cinta kepadamu. Kau begitu indah seperti hujan yang mempertemukanku ditengah keramaian. Namun jua kau seperti angin yang sulit ku dekap ditengah dinginnya malam. Sesekali kau jadikan musim dengan berjuta pelangi, tak terlewat jua penolakan itu menjadikan hatiku bak hujan tanpa adanya pertemuan hati.

Tak perlu sekian detik hati ini menarikmu tuk merasuki jiwaku. Dengan sikap polosmu yang mendadak melambaikan tangan, dikala itu pula hujan mendatangkan cinta untukku. 

"Haruskah aku bersujud syukur pada hujan yang telah menyempatkan waktuku untuk melihatmu?"

Kini hujan ditemani pelangi, namun malaikat tetap sendiri. Bayanganmu itu membuatku bersandar dalam angan tanpa adanya dirimu disampingku. Tetaplah disini, dalam lamunan dan mimpiku, meski kau tidak menyadari bahwa adanya cinta dalam diri ini. Tetaplah disampingku, tempat ku bersandar ketika ku merindukanmu, meski kau tak benar adanya disisiku. Tetaplah menjadi dirimu, sehingga aku tetap bersamamu dalam cerita cinta tanpa balasan darimu.
Aku... aku tetap mencintaimu meski prinsip menghujat keinginan untuk bersamamu. Aku akan terus menjadikanmu pelangi dalam hujan, meski penolakan terus mengecam akan cintaku. Aku tetap menjadi diriku yang berharap menjadi malaikat untukmu.

Aku mencintaimu, sungguh.

Comments

Instagram